GET MARRIED

A Truly-Indonesia Film
A Review By IkoIko

“Wih, Indonesia banget filmnya..” Kalimat itu yang pertama kali meluncur di benak saya pas film Get Married memulai sesi opening-nya. Gimana enggak, kritik sosial yang ditujukan pada pemerintah secara beruntun dilancarkan sejak film dimulai: kasus korupsi pejabat, sarana pendidikan yang gratisnya ternyata mengandung kata ‘plus-plus’, kurangnya fasilitas bagi penduduk, sentilan bagi konglomerasi, praktik KKN para pejabat, dan terakhir studi banding anggota DPR yang dihiasi kata ‘gak jelas’. Benar-benar isu konkrit yang membuat rakyat sengsara dan melarat, jauh dari gemah ripah loh jinawi. Apa cuma itu?

Para tokoh, empat sekawan Mae, Benny, Guntoro, dan Eman dikisahkan sebagai empat-sekawan-lengket-4ever di sebuah kampung di tengah rimba Jakarta Raya: lahir pada saat yang hampir bersamaan, selalu menghabiskan waktu bersama sejak kecil hingga keempatnya sudah menempuh pendidikan formal mereka: akademi sekretaris untuk Mae dan berbagai kursus keterampilan singkat bagi Beni, Eman, dan Guntoro. Sayangnya, hingga ‘kini’ mereka belum mempunyai penghasilan tetap dan kelihatannya tidak mengusahakan sesuatu untuk itu. Hanya bermain gaple sepanjang hari…. ngumpul, kongkow, dan jajan bakso. Cukup lekat dengan gambaran kebanyakan ‘rakyat’ Indonesia zaman sekarang. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan angkatan kerja di Indonesia ternyata hanya berprofesi sebagai pengangguran dan tergantung pada dukungan finansial dari orangtua dan kerabat. Apa yang salah? Kurangnya kreativitas? Kurangnya pendidikan atau latihan keterampilan bagi para pemuda? Lapangan pekerjaan yang sempit? Ataukah memang kebanyakan pemuda-pemuda Indonesia tidak qualified bagi job demand yang saat ini bertaraf global?

Pengangguran-pengangguran ini disebut ‘anak-anak muda yang frustrasi’. Jumlahnya kira-kira empat orang… dipangkatkan bilangan yang besaaar, untuk mewakili jumlah aktual pemuda frustrasi di Indonesia. Tau jumlahnya? Jutaan? Lebih!
Check out this line: ‘Arwah pahlawan sih udah pasti nangis kalo ngeliat pemuda kayak elo.’ Huhuh, miris.

Ketergantungan finansial pada orangtua inilah yang kemudian membuat orangtua Mae mengambil keputusan untuk menikahkan anak perempuan mereka. Alasan utamanya yaitu biar-bisa-lepas-tangan. Nyatanya, mereka berdalih dengan alasan elo-harus-ngelanjutin-keturunan-keluarga-kita. Mulailah sang bapak dan ibunda Mae mencari ‘jodoh’ empuk bagi anak gadisnya. Mereka sama sekali enggak memperhatikan bibit-bebet-bobot, seperti yang dianjurkan leluhur Jawa. ‘Gak masalah deh, yang penting punya penghasilan.’ Gak peduli kecil: guru SMP, tukang ojek, gitu lah. Jodoh-jodohan? Kayak jaman Siti Nurbaya aja..

Pernah gak mikir, nikah itu bukan sekedar ‘ajang’ untuk melanjutkan keturunan atau sarana pemuas nikmat atau cuma menyenangkan orangtua. Nikah itu adalah keputusan berat untuk memulai hidup baru di mana sekarang ada seseorang di samping kita yang telah saling mengikat komitmen seperti ’till death do us apart’. Nikah itu harus dilandasi dengan cinta, bukan cuma ucapan ‘I love you’ ato ‘aku gak bisa hidup tanpamu, sayangku’. Nah, cinta bakal tumbuh jika kita udah mengetahui pribadinya luar-dalam. Ibaratnya, gak seperti membeli kucing dalam karung, gitu. So, it’s a must to know ur partner, untuk menghindari konflik di kemudian hari. Dan, saran dari para ahli, jangan jatuh cinta cuma karena penampilan luar karena segala sesuatu yang bersifat fisik pasti gak abadi. Bakal luntur seiring waktu.

Di balik semua pesan moral yang bisa diambil dengan memperhatikan ceritanya, film besutan director kawakan Hanung Bramantyo ini menarik juga untuk ditonton di kala senggang. Ceritanya segar dan lawakannya begitu mengena di hati. Bintang-bintang yang dipercaya dalam memerankan role: Nirina, Aming, Ringgo A. Rahman, dan Desta ‘Clubeighties’ mampu menyelami karakter peran masing-masing. Pemeran-pemeran pendukung juga bukan sembarang orang. Sebut saja Meriam Bellina, Jaja Mihardja, Ingrid Widjanarko, dan Ira Wibowo. Mereka adalah beberapa ruas pada tulang punggung panggung seni Indonesia.

Menurut saya, sisi komedi yang ditunjukkan berupa perilaku asli masyarakat Indonesia. Wow, film ini memang keren dalam mengungkap topik Truly-Indonesia. Contohnya aja, tawuran antarkampung ato kompleks cuma karena ada salah paham (kecil) di antara segelintir warganya. Memang solidaritas itu seringkali buta, asal grasa-grusu cuma karena ada temen yang abis dihajar orang kampung sebelah. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus mulai berpikir jernih dengan otak, bukan dengan otot. Jangan ada lagi acara ngotot-ngototan.. Ingat, hanya masyarakat primitif yang menyelesaikan masalah dengan otot. Lagian bonyok kan klo sering-sering tawuran?

~ by ikoiko on June 16, 2008.

Leave a Reply