Defensive Driving, Simpel tapi Perlu
Salam hangat, Bro dan Sis sekalian. Hehehe, kali ini aku mo numpang lewat skalian bayar utang. Tempo hari (duluuuu bgt, postingan tentang traffic itu) kan aku udah janji mo ngebahas tentang cara berkendara yang selamat. Naaah, sekarang aku mo cerita tentang beberapa teori cara berkendara yang aman.
Pertama-tama, dari latar belakang dulu yaa. Emang apa pentingnya siy mengendarai secara hati-hati dan selamat? Simpel banget nih. Sodara-sodara sekalian, coba bayangkan, pada suatu hari yang cerah dan damai Anda mengendarai kendaraan masing-masing (ini bisa mobil, sepeda motor, sepeda, ato turunannya seperti becak dkk) dengan kecepatan dan kondisi terkendali. Anda juga menyenandungkan lagu favorit (contohnya aja niy: ‘Begadang’-nya Bang Rhoma. Hauhauhau, lagu paporit siapa pulak ni?). Tiba-tiba, mendadak ada sepeda motor yang keluar gang tanpa ba-bi-bu dan memasuki jalan yang akan Anda lewati beberapa detik lagi, dan kendaraan Anda hampir menabrak sepeda motor tersebut. Spontan, Anda menyerukan beberapa nama binatang dan memaki-maki pengemudi serampangan itu. Sebel, pasti.
Ehm, mari kita kembali ke jalan yang benar. Apa yang bakal kita dapat klo mengemudi secara selamat dan aman? Ya bukan dapet voucher makan gratis ato sejenisnya lah, tapi keselamatan yang tak ternilai harganya dan bisa selamat sampai di tujuan. Bener tho?? Yang pasti, gk ada orang yang pengen kecelakaan (ih, serem bo). This is my lifetime wish, not to be dead because of a traffic accident.
Naah, yang ingin aku tekankan di sini, perilaku mengemudi seseorang itu ibarat mencerminkan perilakunya sehari-hari. Keliatan banget kan mana yang suka bingung, sangat sabar, dan gak sabaran. Karena lebih merupakan perilaku, maka gak mudah untuk mengubah perilaku mengemudi seseorang. Perlu adanya kesadaran dari si manusianya itu. Jadi, beberapa tahun belakangan ini, para ahli (?) telah mengembangkan beberapa metode paling sip dan terbukti ampuh.
Mari, Jeng dan Om sekalian..
SEE: Search – Evaluate – Execute
Ini nih yang bener-bener foundation-nya. Search artinya mengamati lingkungan sekitar. Pastikan Anda melihat cukup jauh untuk memberikan waktu bereaksi, minimal 12 detik. Jangan terpaku hanya pada kendaraan di depan Anda — amati juga yang terjadi jauh di depan.
Evaluate artinya menganalisis perilaku pengemudi lain dan diri sendiri untuk mengantisipasi keadaan yang dihadapi. Ini berguna untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi kejadian tidak terduga.
Terakhir, Execute artinya melakukan tindakan dari hasil analisis dan observasi di atas. Tinggal lakukan yang sesuai dengan keadaan. Sip kan?
SIPDE: Scan – Identify – Predict – Decide – Execute
Scan – Amati sekitar Anda. Perhatikan seluruh daerah yang terlihat 20-30 detik ke depan atau 300-500 m untuk kecepatan 60 km/jam.
Identify – Identifikasi bahaya potensial yang mungkin terjadi. Kenali objek atau ondisi dalam radius 12-15 detik ke depan atau 200-250 m untuk kecepatan 60 km/jam.
Predict – Perkirakan bagaimana pengemudi lain akan bertindak sekitar 12-15 detik ke depan atau 100-200 m untuk kecepatan 60 km/jam.
Decide – Putuskan bagaimana Anda akan bereaksi minimal 4-5 detik sebelumnya atau 70-100 m untuk kecepatan 60 km/jam.
Execute – Lakukan keputusan yang dibuat.
Hampir mirip yah ma SEE. Emang kok. Lanjut..
SMITH SYSTEM
Diperkenalkan oleh Harold L Smith untuk menindaklanjuti tingginya angka motor vehicle crash lebih dari 50 tahun yang lalu. Metode ini terbukti berhasil pada The People Gas Company – Chicago. Setelah mendapat training Smith System, miles save driven mereka meningkat dari 22,000 menjadi 285,000 mil. Sementara ketika dibandingkan dengan The People Gas Company – Canada yang belum mendapat training Smith System, miles save driven mereka malah turun dari 80,000 menjadi 50,000 mil. Inti konsep begini:
1) Look well ahead (selalu melihat jauh ke depan), jadi ada cukup waktu untuk menganalisanya.
2) Move your eyes. Dapatkan data pendukung lebih banyak dari sekitar Anda.
3) Spot the problem. Temukan masalah pokok yang menjadi prioritas.
4) Keep space (jaga jarak aman). Selalu sediakan jarak aman untuk mengantisipasi masalah yang memberi Anda ruang untuk bertindak.
5) Be seen (pastikan orang lain melihat Anda). Jangan remehkan menghidupkan lampu depan kendaraan mulai sore hari.
Yang perlu diingat, Smith System diciptakan untuk melengkapi SIPDE yang sudah ada dan tak dapat diterapkan tanpa konsep SIPDE.
Ketiga metode ini merupakan konsep defensive driving yang merupakan lanjutan dari konsep safety driving. Kalau safety driving lebih mengarah pada mengemudi dengan keahlian, pengalaman tinggi, sikap baik, dan konsentrasi berkesinambungan, maka defensive driving lebih mengarah pada mengantisipasi keadaan yang mungkin terjadi dan mengajarkan konsep untuk terhidar dari situasi emergency. Kata lainnya, seorang defensive driver sudah pasti safety, tapi safety driver belum tentu defensive.
Udah, gituan doang kok. Simpel, tapi seringkali susah untuk diterapkan. Sebenarnya tidak ada yang susah, kita cuma perlu untuk berani memulai. Moga-moga kita selalu memperoleh keselamatan di jalan dan angka kecelakaan di jalanan dapat turun secara signifikan. Semoga kita selalu selamat sampai di tujuan. Amiiin.
Oia, sebelum saya tutup, izinkan saya memuat sebuah permohonan maaf terbuka. Kata maaf saya ditujukan untuk semua pengemudi yang telah berinteraksi dengan saya di jalan dan telah mendapat kata-kata ‘tidak mengenakkan’ dari saya. Hehehehe, i hate to admit this, but i told many nasty words to people if i’m pissed off in highway. Sebenernya siy sering gk sengaja, soalnya jengkel banget. Sodara-sodara, maafkan saya yah.
Makaci untuk yang memaafkan.
Dadah.

Leave a Reply