Oh My Indonesia.. Let’s CHANGE
Hepi Nu Year, Everibodi..
Masih tentang Indonesia, negeriku tercinta. Gak ada bosan-bosannya ngobrolin topik ini. Ceritanya, kemarin saya membongkar barang-barang memorabilia pas SMA sebangsa rapor, koran yang memuat nama saya di kolom kelulusan SPMB, dan lain-lain. Saya cekikikan ngeliat angka 6, 7, 8 untuk matematika dan fisika (hahaha, jangan ketawa gitu dong.. Emang dulu otak pas-pasan), 9 untuk olahraga (yay, i’m good at this), 9 untuk geografi (jangan salah, aku niy anak IPA pecinta geografi loh), dan ada juga ini: nilai 6 dan 7 untuk PPKn.
HAHAHAHAHAHA, emang dari dulu gk pernah bagus untuk yang satu ini. Emang, saya itu sempat tidak bangga pada negara saya, Indonesia. Kasarnya siy muak, dan saya gak bisa nutupin itu. Saya paling gk bisa disuruh nulis yang baik-baik tentang kehidupan benegara itu, padahal yang saya temui dan lihat jauuuuuuuh banget dari itu. Jadi gak bisa improvisasi nulis jadinya pas ujian. Makanya, nilai PPKn saya amburadul dah.
Kebetulan saya membaca kolom ASAL USUL di Kompas (maaf, gtw niy edisinya. Udah lama banget..). Pas banget dengan suara hati saya. Seketika timbul perasaan: ‘Wah, aku gk sendiri yang ngerasain ini’. Ini niy tulisannya:
***
Sembrono
Oleh Suka Hardjana
SAYA tidak tahu apakah secara umum sembrono termasuk salah satu kategori sifat manusia sebagaimana ciri-ciri sifat umum manusia lainnya, seperti agresi, iri hati, solider, ingin tahu, malu, dan sebagainya.
Dalam berbagai bacaan belum saya temukan sesuatu yang menjelaskan tentang hal sembrono. Teks ilmu psikologi yang berasal dari Barat juga tidak sepatah kata pun menyinggung soal sembrono sebagai suatu gejala sifat. Tentu saja tidak, karena sembrono itu bahasa Jawa. Jangan-jangan sembrono hanya merupakan kategori genekologis khas Jawa. Tetapi, masak hanya orang Jawa yang punya sifat sembrono, sementara orang lain tidak sembrono? Atau sembrono hanyalah sebuah gejala perilaku budaya, bukan sifat? Bila ya, maka perilaku budaya itu (sembrono) tentulah gejala perilaku yang bersifat kolektif, bukan individual. Padahal sebagai perilaku, sembrono atau sifat kesembronoan itu lebih sering dilakukan oleh orang per orang. Jadi? Ada kemungkinan sembrono hanyalah kebiasaan umum maupun pribadi yang sering muncul dari tindakan atau perilaku orang. Sengaja atau tak sengaja. Jadi, sembrono bukan sifat atau pun perilaku budaya? Tunggu dulu.
Sembrono adalah sikap (attitude) atau tindakan (action) tidak cermat dan tidak teliti (incorrect).
BRIAN May adalah wartawan Inggris yang pernah bertugas di Indonesia pada tahun 1960-an. Mr May dan bukunya The Indonesian Tragedy didaftarhitamkan oleh penguasa Indonesia pada zamannya (larangan itu hingga saat ini belum dicabut). Apa pasalnya? Brian May dan The Indonesian Tragedy dianggap memfitnah dan mencemarkan nama baik pemerintah, bangsa, dan negara Indonesia dan ulasan-ulasan buku itu dianggap dapat mengganggu stabilitas keamanan dan ketenteraman umum. Lho?
The Indonesian Tragedy dianggap berisi “fitnah” yang membahayakan, karena secara fatalistik buku itu menyebut bahwa orang Indonesia, katanya, tak mungkin bisa maju dan berkembang menjadi bangsa yang modern. Lha kok ? Lha iya. Orang Indonesia, katanya, suka bertindak sembarangan, tak mengenal komitmen, tak bisa menepati janji, bicaranya tak bisa dipegang, suka berbohong, jorok dan… bertingkah laku sembrono! Celaka dua belas!
Ketika membaca buku itu di rantau orang hampir 40 tahun lalu (buku itu dilarang dibaca di Indonesia) terasa mata saya memerah, kuping saya merobek, dan detak jantung saya berdenyut cepat seperti mesin kapal uap kehabisan bahan bakar. Lantas semua saya endapkan kembali apa yang tertulis di buku itu. Tak ada satu buku pun di seluruh bumi yang halaman-halamannya bebas dari kekeliruan. Tetapi, tentang tuduhan serius yang berterus terang dan bergaya British parlementaria itu bahwa orang Indonesia tak akan pernah bisa menjadi bangsa yang maju dan modern karena jorok, suka berbohong, bicaranya tak bisa dipegang, tak bisa menepati janji, tak mengenal komitmen, suka bertindak sembarangan dan bertingkah laku sembrono? Benarkah? Dapatkah sebuah bangsa atau kesatuan masyarakat digeneralisasi secara kolektif seperti itu?
Kini hampir 40 tahun setelah membaca dan merenungkan kembali “fitnah” itu, saya semakin ragu dan takut untuk menyangkal tuduhan keras yang termuat di dalam buku itu. Dari hari ke hari kenyataan menunjukkan ketidakkeliruan sebagian dari isi tuduhan buku itu. “Bertindak sembarangan dan bertingkah laku sembrono”, bukankah kini semakin banyak contohnya di negeri ini? Suka berbohong dan tak mengenal komitmen? Waduh, wis ah… malu! ***
***
Marilah Sodara-sodara, kita bertekad untuk berubah ke arah yang lebih baik. Mari kita bersatu padu sebagai sebuah bangsa yang solid, dan melakukan segalanya dengan niat satu: ‘Lillahi taala’..

Leave a Reply