Me Vs Bursa Karier ITS

Allo semuanya.. Pasti banyak yang bertanya-tanya kan kenapa blog saya ini gk berkembang. Alasannya cuma satu: malas. Hehehehe. Serasa buntu aja klo mo nulis ato ngutak-atik tampilannya. Ada siy ide, nantilah.. menyusul. Fresh loh, tentang makanan pula.. Tunggu aja ya Sodara-Sodara.

Malam ini (5/3) ujan di Surabaya (ini daerah Keputih, areanya ITS, tempat saya ngendon. Gtw siy di daerah lain di Surabaya gimana). Tapi, hujan yang lumayan lebat ini sama sekali gak menghalangi niat mulia dan tulus saya untuk berbagi pengalaman dan komentar (yaelah!). Menurut saya, ini patut dihargai, mengingat hujan semacam ini selalu menggoda saya untuk tidur lebih awal dan bangun telat besoknya. Hahaha, kebo tulen harus off dulu malam ini.

r188122_703500 Topiknya kali ini aktual banget, yaitu Bursa Karier ITS tanggal 4-5 Maret 2009 kemaren. Nah, saya sejak 1.5 tahun lalu gak pernah absen untuk menyemarakkan bursa perekrutan tenaga kerja itu. Cuma mo liat-liat aja kualifikasi yang dicari company itu gimana, biar nanti mudah menyesuaikan diri saya sesuai dengan kebutuhan pasar (yay, baru lulus setaun lagi..). Dan menurut saya, bursa karier kali ini sangat spektakuler karena dihadiri oleh lebih dari 2500 orang pengunjung. Hehehe, gk nyampe sih, cuma keliatannya gitu. Mereka datang sejak pagi banget, pake baju formal plus sepatu pantofel, muka cling cling skalian badan wangi, dan bawa map gede berisi banyak eksemplar application letter plus curriculum vitae dan ijazah dan sertifikat.. Mengagumkan! Memuakkan! Sampe megap-megap gitu, tapi saya harus bersaing dengan ribuan mas-mas dan mbak-mbak itu demi sebuah pekerjaan idaman. Hahaha. Tapi, even inilah yang sekarang berhasil membuka mata saya dengan banyak cara.

Malam Selasa, saya baru tergerak untuk menyusun CV saya untuk menggantikan CV lama yang desainnya sangat ndeso itu. Sebelumnya, saya udah nyari literatur petunjuk membuat CV yang atraktif di internet, skalian CV teman saya yang udah diterima di McDermott Indonesia tahun lalu (congratz, Mbah). Ternyata, membuat CV itu jauuuh lebih susah daripada yang saya bayangkan sebelumnya: kerasa ada beban yang bertumpu di pundak dan paksaan dari otak untuk membuat CV ini jadi CV yang sangat impresif. Satu hal yang saya pelajari, ternyata CV itu adalah sebuah iklan yang menampilkan diri kita yang harus disampaikan dengan semenarik mungkin, tapi dengan sesingkat-singkatnya, dan kalau bisa jangan lebih dari dua halaman. Dan seperti iklan, CV itu harus punya strong point yang menjual diri kita, yang menyatakan klo kita benar-benar unggul. Makanya, banyak pihak yang berpendapat bahwa CV itu adalah portfolio dari achievement kita. Saya setuju total dengan filosofi-filosofi ini.

Mulailah saya memutar otak. Cara paling gampang yah mbacem (hehehehe, yang tau arti istilah ini ya cuma anak ITS), dan model yang paling gampang untuk ditiru adalah punya teman saya tadi. Menurut saya, CV-nya itu biasa, memuat lazimnya segmen-segmen standar CV (dengan bahasa Inggris yang agak kacau malah); tapi mempunyai sebuah poin yang benar-benar menjual dirinya, yaitu Technical & Academical Abilities . Saya yakin, elemen ini yang ngebuat rekruter McDermott mempertimbangkannya. Tapi, pas pengen buat bagian itu juga, saya berpikir: ‘Waduh, kemampuanku di mana ya?’ sambil pening sendiri. Terus terang, selama hampir 4 tahun kuliah di Jurusan Teknik Kimia, saya merasa belum memiliki kemampuan seorang engineer betulan dalam menghadapi kasus-kasus teknis. Saya merasa, hasil belajar saya selama ini masih jauuuh dari cukup untuk memasuki dunia kerja karena masih banyak hal yang luput dari perhatian saya. Tiba-tiba saya merasa jadi mahasiswa yang gagal, gagal dalam menimba ilmu karena cuma mencari nilai semata dan memperingan tugas. Sekarang saya harus berusaha agar gak lulus setahun lagi dengan kemampuan jauh di bawah kualifikasi pekerjaan. Harus mulai belajar lagi!

Singkat kata, saya berhasil menyusun sebuah curriculum vitae walopun saya akui masih kurang di sana-sini. Klo mo liat, silakan.. Mau di-upload, tapi belum bisa. Segera menyusul deh =P

Lanjut.. Pukul 11.30 tanggal 4 Maret 09, saya meluncur ke TKP (Grha ITS oi..) bersama partner saya dan kami terkejut dengan membludaknya jumlah pencari kerja yang memadati TKP. Giling, rame amat.. Dari luar, keliatan orang-orang yang mengungsi ke luar akibat gak tahan dengan suasana mencekam di dalam, mereka ngaso-ngaso sambil makan pentol. Eh, gak ding. Ini mah kerjaan kami sebelum masuk. Hauhauhauhau. Dengan membeli tiket seharga goceng, kami dibolehin masuk sama petugasnya, lalu takjub dengan adanya lautan manusia pencari kerja di sana. Percayalah, aura persaingan terasa banget. Ada booth Pertamina, Chevron, ExxonMobile, Total Indonesie, Unilever, Sampoerna, Bank Mandiri, BII, BRI, dan banyak lainnya. Intinya, company partisipannya jauh lebih sedikit daripada BKI sebelumnya bulan September 2008 lalu, tapi jumlah pengunjungnya lebih fantastis yang ini. Hipotesis saya, ini karena ada banyak perusahaan perbankan yang buka lowongan: 3 bank itu dan Artajasa. Mereka ada yang dari luar kota loh: dari yang dekat aja kayak Malang, sampe yang nauzubillah jauhnya kayak Aceh. Ternyata segitunya yah orang nyari kerja. Soalnya kan sekarang jamannya resesi global dengan PHK besar-besaran. Jadi saya berjanji pada diri saya: ‘Akan melakukan segalanya untuk mengalahkan orang-orang itu dan memenangkan pertempuran, yaitu jadi engineer di perusahaan migas upstream asing. Saya harus bisa, dan pasti bisa.’

Pukul 13.00, saya mengikuti presentasi Chevron IndoAsia. Sebenernya sih tertarik banget untuk berkarier sebagai engineer di sana karena keliatannya menantang (dan juga di berbagai perusahaan migas upstream lainnya, termasuk para service company. Awas, aku akan bergabung dengan kalian!) plus salary benefit yang gak perlu diragukan lagi. Satu lagi, Pak Anthony Tarigan yang ngasih presentasi ngomong klo pengembangan karier di Chevron itu sangat bagus, terbaik dari oil & gas company lainnya, dan gak akan stagnan dalam 5 tahun. Jadilah keinginan saya untuk bisa masuk ke Chevron suatu hari nanti semakin menggebu-gebu. Dan dari statistik engineer baru yang masuk tahun 2006-2008, jumlahnya tidak terlalu besar. Kalau mereka bisa diterima, kenapa saya tidak? Saya pasti bisa seperti mereka.

Ayo, ayo, GO FOR IT.
Ya Allah, berikanlah masa depan yang terbaik untukku.

Hal yang menyenangkan, saya dapat suvenirnya Chevron karena berhasil ngejawab satu pertanyaan. Akhirnyaaaa, saya bisa memiliki merchandise Chevron dengan usaha saya sendiri, bukan dari orangtua. Lumayan, dapat planner 2009 juga yang bergambar pompa rod lift di ladang minyak Duri. Kemenangan ini gak akan berhenti sampai di sini aja. Saya harus mengejar masa depan saya. Saya harus mempersiapkan diri untuk ini.

~ by ikoiko on March 6, 2009.

3 Responses to “Me Vs Bursa Karier ITS”

  1. yup,,jangan mbacem lagi.. palagi kebiasaanku yg suka mbacem prktikum..hweehhe..

    Bener mas, jadi susah ngilangin kebiasaan nih. Dari praktikum sampe tugas dan tugas akhir, sebagian mbacem. Berbahaya!! Harus berusaha..

  2. eh,,jdi gk enak dibilang mas,,lha wong ak masih maba mbak..hee…

    Halah, nyantai jeh.. Aku kan orang baik. Huahahahaha (kyk ketawanya Dr. Evil)

  3. Biasanya sich juga gitu, Bursa Kerja di ITS ruame.. :)

    Yak, benar skali.. Tapi bener loh mas, yang kemaren ini ruameeee bgt, gak kyk sebelumnya. Ini nih akibat resesi global

Leave a Reply