About Traffic: CAPEK!!

•October 25, 2008 • Leave a Comment

I’m back, guys. Setelah sekian lama gk nongol di jagat blog karena terlalu sibuk tidur , I’M BACK!! Watch out.. watch ur pockets or purses and the wallet inside. Hehehe, ini siy waspada akan copet.
Kali ini saya ingin mengeluarkan uneg-uneg yang telah saya simpan dua taunan lebih. Harga BBM naik? No, no. Tugas kuliah banyak? Nehi lah. Ngegebet cowok tapi gak kesampean? Nah, apa lagi itu? Jauh amat. Gak lah. Gak pake lama yah, langsung saya buka aja..

Ini nih, saya lagi sebel sama kondisi lalu lintas Indonesia. Sebelum lebih dalam lagi sebelnya, saya jelasin dulu aja ruang lingkupnya. Di sini, saya hanya bakal ngebahas pengalaman saya ngebawa-bawa motor di jalanan dalam kota (hihihi, saya kuat banget kan). Jadi bukan tentang saya naik sampan pas pulang kampung ke Sumatera ato naik pesawat yah.

Surabaya, kota seribu pahlawan, adalah kota tempat saya mengadu peruntungan sejak tahun 2005 lalu. Nah, taun 2006, saya mulai pake motor untuk mempertinggi mobilitas saya kalau ingin beraktivitas tur keliling mal. Motor yang saya pake ini adalah Honda Supra Fit keluaran 2004 (hehe, sebut merk yah. Gpp ah), si mungil sayang yang selalu setia saya gas dan rem mendadak. Bersama sayangku ini, saya telah merasakan pengalaman mendekati kematian (near death experience tuh bahasa bulenya. Sayang saya belum tw klo diterjemahin ke bahasa Jerman ato Jepang jadinya gimana..). Gak cuma sekali loh, udah berkali-kali. Continue reading ‘About Traffic: CAPEK!!’

17 Agustus 2008: Merdeka?

•August 17, 2008 • 3 Comments

Pukul 06.20, saya terbangun dari ‘tidur ayam’ saya ketika Bapak menelepon dari Jakarta dalam ‘pengembaraan’ beliau kembali ke Duri. Beliau menanyakan, “Hari ini acaranya apa?” Maklum, selama saya menjalani kerja praktik di Pertamina UP III Plaju dua minggu ini, beliau lumayan intensif menanyakan kabar saya, atau apakah saya betah di sini atau tidak. Atas pertanyaan beliau tadi, saya hanya menjawab tidak ada. Beliau sedikit tertawa sambil berujar, “Kasihan..”. Apa daya, rencana untuk menghabiskan hari dengan jalan ke mal di Palembang sirna dengan kepulangan beberapa teman Unila ke Lampung. Kesepian, emang.

Ini hari Minggu tanggal 17 Agustus 2008, hari di mana segelintir orang melaksanakan upacara bendera, pasukan pengibar bendera merasakan detik-detik penentu keberhasilan perjuangan mereka dalam karir kibar-mengibar bendera, dan naiknya rating panitia perayaan kemerdekaan di setiap RT atau kelurahan. Semua stasiun radio di Palembang yang saya setel melantunkan nada yang sama: menyambut hari kemerdekaan. Tidak dengan saya, saya bukan orang yang bersukacita memaknai hari kemerdekaan. Bahkan, saya mempertanyakan kondisi bangsa ini. Apakah untuk seperti ini kita merdeka?

Continue reading ‘17 Agustus 2008: Merdeka?’

Pipi Chubby!! Kenapa yah?

•June 18, 2008 • 6 Comments

Huhuhuh, gimana siy cara mengecilkan pipi? Udah nelangsa selama beberapa bulan nie, terutama setelah mempraktikkan adegan senyum ato nyengir ato meringis di cermin. Kata temen saya, "Pipi itu gak bisa dikecilin, Say. Kan mengikuti bentuk rahang." Bener juga kalo gitu. Saya termasuk ce yang bertulang gede. Emang, gak cuma pipi yang dirasa kegedean, tp sekujur badan saya tentunya. Woaaa, ini tho sebabnya kenapa saya gak bisa tampil (sedikit kurus). Yah, gimana mau kurus, frame -nya aja big size . Turun sekian kilo juga gak bakal keliatan.. Tapi tetep aja saya pengen pipi yang keliatan sedikit tirus. Biar jadi punya tampang model dikit.. (Hihihi, ngarep!). Continue reading ‘Pipi Chubby!! Kenapa yah?’

Never Gonna Fail Again!!

•June 18, 2008 • 2 Comments

UAS alias ujian akhir semester baru saja berlalu. Ada feeling tersendiri ketika kita berhasil melewati rintangan UAS di setiap semesternya. Saya, layaknya mahasiswa lainnya di seantero Indonesia (dan punya style seperti saya tentunyah..), akan menghabiskan waktu dengan berfoya-foya untuk melepas beban yang bikin gilaaaa saat UAS. Catet, bukan pergi ke cafe ato klub, truz ajojing gak karuan gitu, tapi karaoke. Hehehe, memang perlu momen khusus untuk menyambut perayaan istimewa seperti ini. Maklum, bagi anak kos, karaoke itu gak bisa dilakukan seenak perut. Biasanya siy saya baru pergi karaokean dengan teman-teman sehabis menghadapi kuis penting. Yah, sebagai pelampiasan stres kuis itu dunk..

Tapi, seperti semester-semester sebelumnya, saya tetap merasa seperti orang yang gagal. Dan parahnya, saya selalu mengulangi kesalahan yang sama di sini: gak pernah selesai belajar. Apa pasal? Selama ini saya selalu menerapkan sistem kebut 2 hari untuk mempersiapkan materi UAS. Tentu saja untuk materi major engineering yang saya tekuni, waktu sesingkat itu tentu gak cukup. Walhasil, ‘huaaaaaaa’ menjadi raungan favorit saya sehabis ujian. Habis itu yah down dan uring-uringan. Selalu berjanji untuk belajar lebih giat lagi, yang lagi-lagi saya langgar.

Harga yang harus saya bayar untuk kesalahan ini sangat mahal: IP pas-pasan, hanya bisa mengambil 20 sks per semester, dan mengulang beberapa mata kuliah yang belum lulus (dan rata-rata bebannya 3 sks). Sekarang, sks tempuh saya lebih sedikit daripada teman-teman lainnya yang tidak menyia-nyiakan hidup mereka.
Sedih, tapi saya sendiri yang menyebabkan hal ini terjadi.

HARUS BERUBAH! NO MORE MISS PROCRASTINATING.
Ini komitmen baru saya.

Memang selama ini, saya adalah makhluk penunda pekerjaan nomor satu, terutama kalau menyangkut masalah belajar. Idealnya, belajar itu harus dilakukan setiap hari dengan siklus:
Preview materi – Kelas – Review materi – Kerjakan soal

Kalo model pembelajaran ideal ini dilakukan, dijamin gak bakal kelimpungan pas ujian sekalipun kita gak belajar sebelum ujian. Jangan maksain begadang buat belajar. Percuma, karena ilmunya gak bakal mengendap. Tidurlah sehabis belajar, akan membantu mengendapkan ilmu sehingga ilmunya gak bakal menguap begitu saja (Ini mengambil istilah salah satu dosen favorit saya di kampus. Beliau adalah seorang wanita yang praktis, pintar, lincah, sekaligus charming. Perfect! Role model banget dah).

Satu lagi yang perlu saya garis bawahi di sini adalah mengenai waktu. Waktu itu adalah komoditas yang (sangat) berharga. Waktu itu memiliki sifat yang unik, yaitu selalu berjalan, dan tidak tergantikan. Otomatis jika Anda menyiakan waktu luang Anda, waktu itu gak bakal balik lagi dan Anda resmi kehilangan waktu. Gak mau hal itu terjadi kan? Makanya, jangan menunda waktu.

Saya gak mau gagal untuk kedua kalinya!

GET MARRIED

•June 16, 2008 • Leave a Comment

A Truly-Indonesia Film
A Review By IkoIko

“Wih, Indonesia banget filmnya..” Kalimat itu yang pertama kali meluncur di benak saya pas film Get Married memulai sesi opening-nya. Gimana enggak, kritik sosial yang ditujukan pada pemerintah secara beruntun dilancarkan sejak film dimulai: kasus korupsi pejabat, sarana pendidikan yang gratisnya ternyata mengandung kata ‘plus-plus’, kurangnya fasilitas bagi penduduk, sentilan bagi konglomerasi, praktik KKN para pejabat, dan terakhir studi banding anggota DPR yang dihiasi kata ‘gak jelas’. Benar-benar isu konkrit yang membuat rakyat sengsara dan melarat, jauh dari gemah ripah loh jinawi. Apa cuma itu?

Para tokoh, empat sekawan Mae, Benny, Guntoro, dan Eman dikisahkan sebagai empat-sekawan-lengket-4ever di sebuah kampung di tengah rimba Jakarta Raya: lahir pada saat yang hampir bersamaan, selalu menghabiskan waktu bersama sejak kecil hingga keempatnya sudah menempuh pendidikan formal mereka: akademi sekretaris untuk Mae dan berbagai kursus keterampilan singkat bagi Beni, Eman, dan Guntoro. Sayangnya, hingga ‘kini’ mereka belum mempunyai penghasilan tetap dan kelihatannya tidak mengusahakan sesuatu untuk itu. Hanya bermain gaple sepanjang hari…. ngumpul, kongkow, dan jajan bakso. Cukup lekat dengan gambaran kebanyakan ‘rakyat’ Indonesia zaman sekarang. Continue reading ‘GET MARRIED’

Cinta dalam Hati vs Menjaga Hati

•May 12, 2008 • Leave a Comment

Familiar to the songs? Sure do. They might be considered as two of the ‘best love songs’ in 2007-2008 period. Cinta dalam Hati is performed by Ungu, a pop-rock band which is very successful at performing love-themed songs. Then new pop band promoted by Yovie Widianto, Yovie and The Nuno, completely had made the song ‘Menjaga Hati’ become one of the sweetest love songs in Indonesia’s music industry.

What do these songs share something in common? Many people would say that they both love songs. No doubt about it, folks. For example, on a comment in a lyric website, many comment-writers told that ‘Menjaga Hati’ rocks their world, and even ‘much like themselves’. Check out lyrics below:

Masih tertinggal bayanganmu yang telah membekas di relung hatiku
Cinta tak di sini lagi, kau tlah berpaling

Biarkan aku menjaga perasaan ini
Menjaga segenap cinta yang telah kauberi
Engkau pergi, aku takkan pergi
Kau menjauh, aku takkan jauh
Sebenarnya diriku masih mengharapkanmu

Masih adakah cahaya rindumu
Yang dulu selalu cerminkan hatimu
Aku takkan bisa menghapus dirimu
Meski kulihat kau di seberang sana

Continue reading ‘Cinta dalam Hati vs Menjaga Hati’